Sabtu, 07 Mei 2016

Kedan Kak Inong

    Kedan merupakan singkatan dari Kedai Medan yang telah buka di Jalan Banjarsari Selatan No. 9 Tembalang. Buka dari jam 07.00 sampai 16.00 setiap harinya. Menu yang ditawarkan tak jauh-jauh dari masakan yang kita temukan di kota Medan, seperti: nasi gurih, soto Medan, daun ubi, sambel belacan, roti jala kari kambing, lontong sayur, lupis, dan masih banyak lainnya dengan kisaran harga dari Rp10.000 hingga Rp.20.000. Dengan mengecap rasa dari masakan ini kita bisa merasakan lagi sensasi seperti berada di Medan.

Markobar

    Di Semarang telah dibuka cabang kedai Markobar di Jalan Pemuda No.142 dekat dari bundaran Tugu Muda, dibuka dari jam 17.00 hingga 22.00. Martabak merupakan menu utama yang dihidangkandi tempat ini dengan kisaran harga Rp70.000 sampai ratusan ribu semua bergantung dengan variasi topping yang dipilih. 
    Misalnya saja ini, saya memilih satu loyang martabak dengan 4 varian rasa; kitkat, silverqueen, ovamaltine, dan keju ini seharga 70.000. Bisa juga kita memilih untuk 8 variasi rasa dalam satu loyang. Terdapat pula berbagai macam menu minuman dengan kisaran harga Rp20.000 hingga Rp30.000.
    Tempatnya menyenangkan dengan dekorasi yang nyaman untuk tempat berkumpul bersama orang-orang tersayang. Di tempat ini juga sering mengadakan live music yang semakin membuat suasana semakin hangat.

Rabu, 04 Mei 2016

Cobanrondo

"Asal usul Cobanrondo berasal dari sepasang pengantin baru yang baru saja melangsungkan pernikahan.  Mempelai wanita yang bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah usai pernikahan mencapai 36 hari (selapan) Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena baru selapan. Namun keduanya bersikeras pergi berangkat dengan segala resiko apapun yang terjadi di perjalanan. Ketika dalam perjalanan, keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono yang tidak jelas asal usulnya. Tampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahian tidak dapat dihindarkan kepada punokawan yang menyertainya Raden Baron berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang ada cobannya (air terjun), perkelahian berlangsung seru dan akhirnya sama-sama gugur, dengan demikian akhirnya Dewi Anjarwati menanti suaminya dikenal dengan Cobanrondo. Konon batu besar dibawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri."
    Ini merupakan legenda yang dipercayai masyarakat sekitar tentang air terjun yang dikenal dengan cobanrondo. Letaknya tak jauh dari kota Batu, harga tiket masuk dikenakan sekitar Rp10.000. Air terjunnya sendiri tidak jauh dari tempat parkir, disediakan pula banyak kamar mandi bagi orang-orang yang ingin bermain air.

    Banyak pula disediakan tempat untuk bersantai-santai ria di sepanjang aliran sungai dari air terjunnya. Di kawasan ini juga disediakan paket outbound untuk rombongan dan berbagai macam jenis wahana alam yang bisa dinikmati bagi para pengunjung. Mulai dari petik apel untuk keluarga dan anak-anak, paket petualangan, seperti; rafting, point ball, air soft gun, jungle trekking, dan masih banyak lainnya dengan harga yang tentunya terjangkau.

Balekambang

    Diujung timur dari kota Malang tersembunyi deretan keindahan pantai yang memukau, tak kalah bila dibanding pantai-pantai yang sudah terkenal di daerah timur sana. Menempuh sekitar 3 jam menggunakan kendaraan pribadi, masih belum ada kendaraan umum yang dapat dipakai untuk mengakses ke daerah ini. Masih 3.6 kilometer lagi jarak yang harus ditempuh dari jalan besar.
    Harga tiket masuk Rp10.000 per orang dan untuk mobil Rp10.000 di pesisir pantai terdapat banyak kedai-kedai yang berjualan pakaian pantai, hasil karya olahan dari kerang, sampai dengan makanan-makanan ringgan hingga berat semua dijual dengan harga yang terjangkau.
    Di tengah-tengah terdapat Pura yang masih digunakan oleh pemeluk agama Hindu yang berada di daerah sekitarnya. Tetapi untuk area dalam Pura pengunjung tidak diperbolehkan masuk karena di sana merupakan tempat suci untuk beribadah.
    Dari atas sini disediakan wahana flying fox yang berujung di sisi bibir pantai dengan ketinggian 10 meter dengan jarak 15 meter. Dikenakan biaya Rp20.000 untuk bisa menikmati sensasi membelah pantai ditemani dengan kencangnya angin laut serta kerasnya deburan ombak langsung dibawah kaku kita. Lalu pada kesudahannya kaki kita akan disambut oleh empuknya pasir putih. Terdapat pula wisata sumber pitu dan pulau penyu dalam kawasan ini.

    Sayang tenggelamnya matahari tidak terlalu terlihat dari bibir pantai, karena ini tidak menghadap ke barat. Namun tetap saja kita bisa menikmati indahnya kilauan emas dari megahnya mentari, jangan lupa bersyukur atas nikmat yang diberikanNya lewat semesta.

Senin, 02 Mei 2016

BNS

    Batu Night Spectacular atau biasa yang dikenal dengan BNS merupakan salah satu destinasi yang wajib dikunjungi para pencong bila ingin berwisata di malam hari. Harga tiket masuk dikenakan biaya sebesar Rp30.000, di dalamnya akan kita temui berbagai macam wahana permainan baik untuk orang dewasa dan juga bagi anak-anak. Kisaran harga dari setiap permainan antara Rp10.000 hingga Rp25.000 selain itu ada juga terdapat pusat tempat makanan dan juga pusat oleh-oleh harga yang ditawarkan pun terjangkau.

    Terdapat taman lampion yang di dalamnya terdapat berbagai macam hasil karya yang dihiasi lampu-lampu, dari depan kita akan melihat seolah-olah benteng sebuah istana dengan warna-warni gemerlap lampu.

Museum Angkut

    Tempat ini sudah menjadi objek wisata yang tidak boleh dilewatkan bagi para pelancong di kota Malang. Meski baru diresmikan tetapi tempat ini sudah cukup banyak menarik pelancong untuk datang dan masuk ke dalamnya. Saya pun termasuk ke dalam orang yang penasaran tentang tempat ini lalu saya bersama dengan beberapa teman meluangkan waktu untuk bertamsya ke Malang.
    Harga tiket masuk sekitar Rp80.000 di akhir pekan dan hari libur nasional dan Rp60.000 pada hari Senin sampai dengan Kamis. Terdapat tambahan biaya bagi pengunjung yang membawa kamera ke dalam dikenakan biaya sebesar Rp30.000.
                                       
    Dari pintu masuk akan tersaji berbagai kendaraan antik dengan berbagai macam jenis, mulai dari mobil, motor, delman, sepeda, helikopter, dan banyak lainnya. Disediakan banyak spot-spot yang memanjakan pengunjung untuk berpose mengabadikan sebuah hasil bidikan kamera.

   Setelahnya kita akan naik ke lantai dua, tempat berbagai informasi mengenai perkembangaan alat transportasi dari dulu sampai sekarang. Terdapat pula berbagai replika sebagai pendukung informasinya. Dan di lantai paling atas disediakan tempat untuk menikmati kota Batu dari atas, serta ada banyak replika pesawat-pesawat terbang.



   Masuk lagi lebih dalam kita akan melihat berbagai macam tema-tema dengan latar yang sangat mendukung. Bisa dilihat dari hasil bidikan yang saya berikan di atas. Kita seperti benar-benar ada seperti tempat aslinya. Sangat memikat dan pasti kita tidak akan mau melewatkan setiap sudut untuk selalu membidik. Secara tidak langsung kita akan bisa mendapat gambaran yang jelas akan tempat yang sebenernya, contohnya dengan kata lain kita tidak perlu repot repot untuk bisa ke Los Angeles karna di sini sudah ada miniatur dari kota itu.

Minggu, 06 Desember 2015

Danau Batur

    Berada di utara daerah Kintamani, Bali memiliki sebuah danau yang tergolong cukup luas di samping gunung Baturnya itu sendiri. Perjalanan yang akan dilalui sangat panjang dengan jalan yang berkelak-kelok dan bisa dibilang jalanan menuju kesini cukup sepi. Menempuh perjalanan hingga 1,5 jam dari pusat kota.
    Indahnya panorama danau dari atas sini, ditambah lagi dengan sejuknya udara Kintamani. Hijau kebiru-biruan nampak dari warna air Danau Batur, warna dari danau ini dapat berubah-ubah dipengaruhi oleh belerang yang berada di dasarnya. Untuk berada di kawasan ini dikenakan biaya sebesar Rp5.000/ orang, kita akan dimintai oleh petugas yang berada di pintu masuk kawasan ini.
    Gunung Batur sendiri kondisinya saat ini masih aktif dengan ketinggian 1717 mdpl. Terakhir meletus pada tahun 2005 tetapi kini sudah banyak yang mendaki gunung ini. Sayang, pada kesempatan kali ini saya belum diberikan kesempatan untuk bisa mendakinya.

    Menikmati panorama danau dari atas sini sambil ditemani sebuah kepala muda tak terasa lagi perjuangan yang telah dilalui untuk bisa sampai kesini. Akan banyak ditemui masyarakat-masyarakat yang berjualan kerajinan tangan dalam keranjang kepada para pelancong.
    Turun lagi ke bawah untuk melihat lagi dari dekat betapa memukaunya danau ini. Kiri dan kanan jalan yang dilalui dipenuhi dengan bebeatuan sisa sisa erupsi dari Gunung Batur.

Pandawa

    Pantai ini sudah termasuk ke dalam salah satu destinasi untuk rombongan para pelancong, akses ke tempat ini juga sangat mudah dengan jalanan beraspal yang besar.  Awal memasuki area ini kita akan melewati jalan yang memisahkan dua buah tebing, lalu selanjutnya di sebelah kanan jalan kita akan melihat pantai yang berada di bawah dan pada sisi sebelah kiri kita akan melihat patung-patung besar. 
   Ada 6 patung yang ada disini Dewi Kunti, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa semuanya merupakan tokoh dalam Epos Mahabharata. Patung-patungnya diberikan kain-kain yang membuat semakin menawan. Patung-patung ini berada seperti di sebuah gua, berada sejajar disepanjang jalanan menurun menuju pantai. 
    Area parkir berada di bawah dekat dengan pantai. Dari atas sini pemandanganya sangat indah antara ujung laut dan langit berada seperti di luar jangkauan.
   Terdapat banyak tempat duduk yang disediakan bagi para pengunjung yang ingin bersantai menikmati suasana. Banyak pula ditemui kios-kios yang menjual makanan dan minuman bahkan beberapa aksesoris pantai. Disewakan pula beberapa permainan air.
    Sore itu ketika aku berada di sana, pantai ini lumayan sepi sudah tidak banyak orang yang bermain-main air di pantai. Aku pun menikmatinya hanya dengan berjalan sepanjang bibir pantai di atas pasir sambil sesekali kakiku dihampiri oleh debur ombak yang menggoda.
Dari pantai yang berada di bawah terlihat tulisan besar-besar di atas tebing "Pantai Pandawa". 


    Sayang, dari pantai ini kita tidak bisa menikmati matahari terbenam karna letaknya yang tidak berada di arah barat. Belum sampai benar-benar gelap aku memutuskan untuk langsung pulang karna jalan disini belum banyak diterangi oleh lampu-lampu jalan.

Jumat, 04 Desember 2015

Balangan

    Bali dengan pantai merupakan perpaduan yang tidak bisa dipisahkan, tidak baik melewatkan kesempatan untuk menikmati pantai ketika sedang berada di Bali. Begitu menurutku, seorang penikmat alam yang sedang diperbolehkan waktu untuk bisa berada lagi di pulau ini. Memang pada kunjunganku kali ini semua destinasi yang aku tuju ialah pantai.

    Pada hari pertama aku menginjakkan kaki, aku langsung diajak untuk menikmati salah satu dari sekian banyak pantai yang indah di Bali. Tidak dipunggut biaya masuk untuk berada di dalam kawasan ini. Temanku langsung saja mengajakku untuk melihatnya terlebih dahulu dari atas. Mataku langsung terpukau melihat gradasi warna di bibir pantai yang tersaji dibawah. Tak dapat lagi berkata apa-apa, panasnya matahari tidak lagi aku rasakan. Hanya kesejukkan dan ketenangan yang terasa dibawa oleh angin yang berhembus.
Memukau!


   Aku menelusuri kebawah dan menemukan sebuah gua yang berisi sesajen dan dari sana makin terasa memikatnya biru pantai. Sepi sekali, aku berpikir saat itu pasti masih belum banyak orang yang mengetahui keindahan pantai ini. Di saat sudah banyak pantai-pantai yang berisi rombongan para pelancong dari dalam dan luar negeri dan di sini bisa dilihat hanya ada beberapa kendaraan beroda empat dan roda dua yang terparkir. Ya, memang akses untuk mencapai kesini belum bisa ditempuh menggunakan kendaraan besar, seperti bis.

    Benar-benar sampai dibibir pantai yang aku temukan jernihnya air di pantai ini, kita bisa melihat langsung apa yang ada di dasar laut. Sebagain besar pengunjung yang berkeliaran ialah para pelancong mancannegara, sedang asik bermain-main air atau pun sekedar berjemur di pinggir.
Senangnya melihat alam yang masih bersih, bebas dari sampah dan segala bentuk perusakan lain dari manusia. Mari kita jaga bersama alam dimanapun kaki kita sedang bertumpu!

Tanah Lot

    Tempat ini sudah menjadi tempat yang wajib dimasukkan kedalam agenda para pelancong yang sedang berlibur di pulau dewata. Meskipun jarak yang harus ditempuh cukup jauh dari pusat kota tetapi memang pemandangan yang tersaji akan membayar semua jerih payah. Harga tiket masuknya Rp 10.000/ orang, kawasan ini cukup luas dengan pantai di ujungnya. Terdapat pura yang terletak di tengah pantai, bisa didatangi ketika air laut sedang surut.
    Sayangnya, aku berkunjung ketika air laut sedang pasang jadi hanya bisa memandangi pura tersebut dari bibir pantai. Dibawah pura terdapat goa yang didalamnya terdapat mata air yang mengeluarkan air tawar yang disucikan oleh masyarakat Bali. Dibuka untuk umum dan para pengujung dapat membasuh atau bisa juga meminum langsung air itu. Pada sisi lain terdapat gua yang didalamnya ada ular suci, sekujur tubuhnya belang-belang berwarna hitam putih. 
    Tanah Lot sebagai destinasi tempat untuk menikmati indahnya matahari terbenam, memang sisi pantai mengarah ke arah barat. Aku memang berada disana di sore hari ketikamata hari terbenam, beruntung mendapatkan kesempatan untuk menikmati indahnya lukisan Hyang Widhi Wasa.

    Aku menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi kawasan ini, melihat dari atas bagaimana cepatnyanya deburan ombak yang beradu-adu menuju bibir pantai. Betapa kokohnya karang-karang yang dihantam dengan keras oleh ombak-ombak yang pasang. Nikmatnya alam, tidak bisa digantikan oleh apapun, dan itu diam-diam selalu berhasil membawa syukur yang tidak terkira padanya yang Maha Pencipta.